Pangeran Kembar

Jenis Cerita: Cerpen
Oleh Galang Lufityanto

     Di kerajaan Aryana, hidup dua orang pangeran kembar bernama Radite dan Rufus. Raja Hafa, ayah mereka, sangat menyayangi mereka berdua. Radite dan Rufus hampir sulit dibedakan karena wajah dan bentuk tubuh mereka sama. Namun, sifat mereka sangat berlawanan. Radite sering tersenyum, sedangkan Rufus selalu bersungut-sungut.

Pernah suatu kali, Raja Hafa membelikan kedua puteranya Permen Yang Tidak Akan Pernah Habis dari Kerajaan Lolly. Radite memeluk ayahanda kegirangan. Rufus pun semula tampak gembira. Namun ia akhirnya mengeluh juga.
"Permen ini tidak berguna. Walau tidak bisa habis, tapi kalau sudah dirubung semut, tetap saja tidak bisa dimakan lagi!" keluhnya.

Saat liburan tuba, Radite dan Rufus bersama teman-teman pergi berpiknik ke Sungai Yarra. Banyak orang yang datang ke sungai itu untuk naik kapal yang terbuat dari kaca. Mereka bisa melihat apa yang ada di dalam sungai.

Di sungai itu tinggal ikan pelangi. Tubuh ikan itu sangat panjang, warnanya indah seperti pelangi. Ikan-ikan itu sangat ramah. Jika ada kapal yang berlayar, ikan-ikan itu pasti akan berenang mendekat. Namun, jangan sampai tergoda untuk menyentuh mereka. Ikan pelangi akan menarik siapa pun hingga jatuh ke sungai untuk bermain dengan mereka.

Malangnya Rufus tidak tahu tentang itu. Rufus mengulurkan tangannya mencoba untuk menyentuh tubuh ikan pelangi yang indah itu. Ikan pelangi yang bertubuh panjang itu kemudian membelit pergelangan tangan Rufus dan menariknya. Kapal yang ditumpangi Rufus dan keempat teman sekolahnya oleng. Rufus pun jatuh ke dalam sungai bersama teman-temannya.

Untunglah guru-guru yang melihat kejadian itu langsung terjun ke sungai. Rufus dan keempat temannya segera diselamatkan.

Rufus sakit demam selama hampir satu minggu. Keluhannya semakin banyak, karena harus melewatkan hari ulang tahunnya di kamar. Raja Hafa terpaksa membatalkan pesta ulang tahun Radite dan Rufus, sebab Rufus masih lemah.

"Seharusnya kita tidak piknik di Sungai Yarra. Seharusnya kita diberitahu agar tidak menyentuh ikan pelangi itu! Guru-guruku payah sekali!" keluh Rufus.

Radite hanya diam mendengar keluhan kembarannya. Radite tahu persis, sebelum berangkat, guru-guru mereka sudah berulang-ulang memperingatkan mereka tentang ikan pelangi itu. Tetapi Rufus mungin tidak mendengar. Gara-gara Rufus, Radite pun tidak jadi merayakan pesta ulang tahun. Namun sama sekali tidak ada keluhan dari mulut Radite.

Raja Hafa muncul dari balik pintu. "Apa kabar, putera-puteraku sayang?"
"Baik, Ayahanda!" Radite menjawab dengan riang.
"Aku masih sakit. Rasanya badanku ini seperti terbakar," keluh Rufus.
"Ayah punya hadiah ulang tahun. Sekarang umur kalian sebelas tahun. Kalian sudah cukup dewasa untuk punya kamar terpisah. Mulai besok kalian akan punya kamar sendiri-sendiri."
"Wow, kamu dengar itu Rufus? Kita bakalan punya kamar sendiri! Keren!" Radite sangat gembira. Rufus pun tampak senang.
"Radite, kamu boleh lebih dulu memilih kamarmu besok pagi. Ada dua kamar yang bisa dipakai. Satu di bangunan istana sayap utara dan satu lagi di sayap selatan."

Esoknya Radite melihat-lihat dua kamar tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil kamar di sayap utara. Mendengar itu, Rufus menggerutu. Ia tidak suka jika Radite yeng memilih terlebih dahulu. Nanti pasti dirinya hanya disisakan kamar yang jelek. Tetapi harus bagaimana lagi? Rufus diperingatkan dokter untuk tidak terlalu banyak turun dari tempat tidur.

Beberapa dayang membantu memindahkan barang-barang mereka ke kamar yang baru.
Rufus juga digendong menuju kamar barunya. Sebenarnya kamar barunya itu tidak jelek. Dari jendelanya ia bisa melihat Lapangan Sierra yang luas. Lapangan itu sangat indah pada sore hari, matahari seakan terbenam di ujung lapangan itu.

Akan tetapi Rufus memang tak pernah puas. Sore harinya, Radite berkunjung ke kamarnya. Radite kagum melihat keindahan pemandangan dari jendela Rufus. Ia juga bercerita bahwa dari jenedla kamarnya, ia bisa melihat Sungai Yarra. Mendengar itu, Rufus menjadi iri. Ia lebih suka pemandangan Sungai Yarra daripada Lapangan Sierra.

Rufus mengeluh kepada ayahandanya. Raja Hafa sedikit jengkel.
"Rufus, Ayah tidak suka dengan sifatmu yang selalu tidak puas. Jika Ayah mengabulkan permintaanmu ini, berjanjilah bahwa ini adalah terakhir kalinya kamu mengeluh! Kalau kamu masih juga mengeluh, Ayah tidak akan pernah memberi kamu hadiah lagi."

Rufus menganggukan kepala.
Raja Hafa memanggil Radite dan memberitahukan hal ini padanya. Radite agak kecewa saat diminta bertukar kamar dengan Rufus. Meskipun demikian, ia merelakan juga kamarnya untuk ditempati Rufus.

Dayang-dayang segera memindahkan barang mereka berdua. Setelah selesai. Betapa kagetnya ketika ia membuka pintu kamar barunya itu. Memang kamar itu sedikit besar daripada kamarnya yang dulu. Tetapi pemandangan dari jendela kamarnya tertutupi tembok bangunan istana utama di kejauhan. Hanya tersisa sedikit celah untuk melihat pemandangan Sungai Uarra.

Rufus terdiam. Ia menyadari kesalahannya selama ini. Betapa baiknya Radite yang sudah memberikannya kamar yang terbaik. Sejak itu, Rufus tidak pernah mengeluh lagi.

Bobo No.14 Tahun XXXV, 12 Juli 2007
Pangeran Kembar Pangeran Kembar Reviewed by Andi on 25 Juni Rating: 5