Sterna, Sang Penerbang Antar Kutub

Nama : Sterna Paradisaea (Dara-Laut)
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Charadriiformes
Upaordo : Lari
Famili : Sternidae 

Lagi iseng nih, buka-buka buku yang udah apek, ternyata nemu majalah Bobo. Sampulnya juga udah lepas gak tau kemana. hihihi. Setelah buka beberapa halaman, ada pengetahuan menarik nih seputar burung. Burung ini gak sekedar burung, dia bisa migrasi dari artik ke antartika, itu artinya, dari kutub utara ke kutub selatan! Subhanallah. Ada juga artikelnya menurut Wikipedia Bahasa Indonesia yang bisa dilihat disini. Kok bisa ya? Mari kita lihat artikel aslinya, bentuknya cerita dialog loh, hehehe:




Sterna berkemas. Malam ini ia akan ikut keluarganya bermigrasi ke Antartika. Sterna adalah seekor burung dara Artik. Yaitu burung yang berasal dari daerah di dekat kutub utara. Nama lengkap Sterna adalah Sterna Paradisaea. Ia tinggal di sekitar pesisir pantai Amerika Utara. 
"Sudah siap Sterna?" tanya Paradise. Paradise adalah kakak Sterna. Paradise sudah dua kali ikut bermigrasi.
"Ya, aku sudah siap, Kak" jawab Sterna mantap.
"Bagus! Sebentar lagi kita berangkat."
"Kak, berarti kita tidak akan kembali lagi ke tempat ini?"
"Tenang, Sterna. Kita pasti kembali."
"Tapi, biasanya orang bermigrasi itu kan pindah ke tempat baru untuk selama-lamanya?"
"O, migrasi kita berbeda dari migrasi manusia" jawab Paradise. "Kita bermigrasi hanya selama musim dingin saja. Nanti, setelah musim dingin berlalu, kita akan kembali lagi."
"O, begitu..." kata Sterna lega. "Eh, tapi ngomong-ngomong, kenapa sih kita kok bermigrasi segala, kak?"
"Kita bermigrasi untuk mencari tempat yang hangat dengan persediaan makanan yang berlimpah."
"Ke mana kita akan terbang?"
"Dari Amerika Utara ini, kita akan menyebrangi Samudera Atlantik menuju ke Eropa Selatan. Lalu kita akan terbang di sepanjang pesisir pantai Afrika menuju Antartika. Ada juga yang melalui Amerika Selatan, kemudian langsung ke Antartika."
"Antartika itu jauh ya, Kak?"
"Yah... kurang lebih jaraknya 350.000 kilometer dari Amerika Utara."
"Haaa...?!!!" Sterna terbengong-bengon. "Pasti itu jauh sekali."
"Tentu saja. Karena Antartika berada tidak jauh dari kutub selatan."
"Berarti kita akan terbang dari kutub utara ke kutub selatan?"
"He-eh" Paradise menganggukkan kepala.
"Kenapa mesti ke selatan?" tanya Sterna penasaran.

 "Karena ketika di belahan bumi utara sedang berlangsung musim dingin, di belahan bumi sedang berlangsung musim dingin, di belahan bumi selatan berlangsung musim panas. Di sana masih terdapat banyak makanan. Nanti, ketika di selatan sudah mulai memasuki musim dingin dan persediaan makanan mulai habis, kita akan kembali lagi ke utara. Sebab di utara saat itu berlangsung musim panas dan makanan berlimpah kembali."
"Tapi, apa semua burung yang bermigrasi selalu menempuh jarak yang jauh seperti itu?"
"O, tidak selalu. Ada burung-burung tertentu yang bermigrasi dengan menempuh jarak yang pendek. Mereka itu misalnya Burung Murai. Bahkan burung-burung yang hidup di daerah pegunungan di Amerika Utara hanya melakukan Migrasi Altitudinal."
"Migrasi Altitudinal? Itu migrasi yang bagaimana?"
"Emm.. Migrasi Altitudinal itu bisa juga disebut sebagai turun gunung."
"Turun gunung...? Apa lagi itu, Kak?" tanya Sterna sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Begini. Burung-burung yang tinggalnya di puncak pegunungan, ketika musim dingin tiba akan berbondong-bondong turun ke lereng-lereng atau dataran yang tendah untuk mencari makan. Ketika musim dingin telah lewat, mereka akan kembali naik ke tempat asal mereka di puncak."


"Begitu ya... Sekarang kan sudah malam. Apa tidak sebaiknya kita breangkat besok pagi saja, Kak?"
"Justru malam hari adalah saat yang paling tepat buat kita untuk bermigrasi" jawab Paradise.
"Kenapa begitu?"
"Ada beberapa alasan mengapa beberapa jenis burung memilih bermigrasi di malam hari. Antara lain, terbang di malam hari membuat kawanan burung-burung kecil seperti kita ini menjadi aman dari ancaman musuh. Terbang di malam hari juga membuat burung-burung tidak terlalu capek. Karena waktu siangnya dapat digunakan untuk beristirahat dan menyantap ikan kecil sebanyak-banyaknya agar malamnya bisa kuat terbang lebih lama. Selain itu, terbang di malam hari juga menguntungkan karena suhu udara yang lebih dingin membuat burung tidak cepat lelah."

"Oh ya? Apa nanti tidak kedinginan?" tanya Sterna penasaran.
"Tidak, Sterna. Burung-burung itu ketika terbang selalu mengeluarkan energi yang membuat tubuh menjadi panas. Dan ketika suhu tubuh menjadi terlalu panas, burung-burung itu akan cepat lelah karena mengalami dehidrasi atau pengeluaran cairan tubuh secara berlebihan. Pengeluaran cairan tubuh ini terjadi secara otomatis dan berfungsi untuk menjaga keseimbangan suhu badan agar tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Nah, kalau terbang di malam yang dingin, burung-burung tidak perlu mengeluarkan cairan tubuh terlalu banyak. Karena panas tubuhnya sudah diredam oleh suhu udara malam yang dingin. Sehingga burung-burung dapat terbang lebih lama tanpa cepat merasa lelah."
"Begitu ya. Tapi terbang di malam hari apa tidak membuat burung-burung tersesat?"
"Tentu tidak. Karena bangsa burung bisa mengenali dan menghafal bentuk-bentuk aliran sungai. garis pantai, dan jalur pegunungan. Selain itu, mereka juga menggunakan bintang-bintang dan matahari sebagai penunjuk arah."
"Wah, keren bangeeet..." kata Sterna.
"hehehe... tentu saja. Nanti kakak ajari caranya."
"Benar, kak? Asyiikkk..." kata Sterna kegirangan

Nah, bagaimana ceritaya? Seru kan? Hehe. Selain ceritanya yang seru, postingan ini juga menjadikan wawasan kita lebih luas. Sampai jumpa dipostingan berikutnya! ^^,

(Bobo No. 36 / XXXI / 2003 Hal. 38-39) 
 
Sterna, Sang Penerbang Antar Kutub Sterna, Sang Penerbang Antar Kutub Reviewed by Andi on 6/23/2011 Rating: 5

Tidak ada komentar