Puasa: Pahala Dapat, Tubuh Sehat

Buah-buahan segar
Shaum Ramadhan sesungguhnya adalah rahmat Allah bagi kaum muslimin. Tidak hanya bernilai ibadah, bila dilakukan secara benar, puasapun berefek positif bagi kesehatan.

     Selama 11 bulan dalam satu tahun tubuh kita menerima berbagai jenis makanan dan minuman. Tidak semua makanan dan minuman itu baik dari segi kesehatan, walau dari segi agama tetap dianggap halal. Bahkan selain membawa nutrisi, makanan dan minuman berpotensi untuk pula membawa racun. Ini dimungkinkan oleh banyaknya zat tambahan dalam makanan saat ini, misalnya yang terdapat dalam makanan cepat saji dan sejenisnya. Atau bisa juga berasal dari pestisida yang tertinggal dalam sayuran dan buah-buahan yang kita konsumsi. Zat-zat makanan, semisal protein dan gula, setelah digunakan akan menjadi zat sisa yang menjadi limbah racun dalam tubuh pula.

      Dalam kondisi tubuh yang baik, karena efisiennya fungsi jantung, paru dan pembuluh darah, racun dari asuupan tadi bisa terbuang secara lancar dan teratur bersama produk buangan lainnya. Artinya tubuhpun sebenarnya punya pertahanan terhadap racun. Namun karena gaya hidup modern yang pasif, organ-oragan tubuh itu berfungsi buruk, sehingga pertahanan terhadap racunpun berkurang. Racun-racun inipun tertinggal dalam tubuh dan terus menumpuk. Karena timbunan racun ini bisa berbahaya bagi tubuh, maka racun ini harus dikeluarkan. Puasa bisa membantu proses itu.

     Puasa, dari tinjauan kesehatan, berfungsi sebagai detoksifikasi (proses pengeluaran racun dari dalam tubuh). Boleh dibilang sebagai proses pencucian tubuh. Karena dari pagi hingga sore hannya makanan di waktu sahur saja yang masuk, tubuh, khususnya alat pencernaan, bekerja dengan santai. Dengan beban kerja sedikit itu, alat-alat ini bisa melakukan kerja lain yang selama ini 'terlewatkan' karena kesibukannya, yaitu memproses atau mengeluarkan racun-racun dalam tubuh. Akhirnya tubuhpun bersih dari racun.

     Hasil positif bagi kesehatan ini, tentunya hanya tercapai bila puasa dilakukan secara benar dan terarah. Pola makan yang teratur itu, sahur sebelum Subuh dan berbuka di waktu Maghrib, harus juga ditunjang dengan pemilihan asupan yang baik selama bulan itu.

Pilihlah makanan dan minuman

     Menurut Dr. dr. Carmen Yahya, SpKO, ketua Pusat Ilmu Olahraga KONI Pusat, untuk memenuhi kebutuhan lebih lama, jenis makanan yang disantap pada waktu sahur adalah yang berkualitas, terutama kualitas kalorinya. Jangan sampai terlalu kenyang. Paling tidak memenuhi sepertiga kebutuhan kalori sehari, yaitu 1900 kalori untuk wanita dan 2100 untuk pria dewasa. Namun itupun biasanya hanya cukup sampai sekitar pukul 2 siang saja. Disinilah terjadi masa kritis.

     Pada kondisi ini yang berperan kemudian adalah simpanan air dalam tubuh. "Kebanyakan orang tidak tahan puasa kan karena haus, bukan karena lapar," kata Carmen. Maka iapun menganjurkan minum yang banyak pada waktu sahur. Jangan minum yang memperlancar air seni, semisal kopi. Perlu juga disertakan cairan elektrolit yaitu cairan yang mudah diserap tubuh. Kalau bisa cairan elekrtrolit khusus. Namun sebenarnya buah-buahan pun sudah memiliki kandungan cairan elektrolit alami.

     Sementara itu, Dr. HE Kusdinar Achmad, MPH, dosen Pasca Sarjana FKMUI, menambahkan untuk mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan berbuka. "Itu dicontohkan Rasulullah, supaya waktu sahur dan buka tak terlalu lama," jelas Kusdinar.

     Masih mengutip anjuran Rasulullah, Kusdinar menyarankan untuk memakan kurma. Dalam kurma ada glukosa dengan energi yang bisa langsung digunakan untuk sholat Maghrib kemudian Isya dan tarawih.

     Yang perlu dihindarkan adalah langsung makan hidangan berat dengan porsi besar pula. "Karena itu akan membuat pencernaan kita terkejut," imbuh Kusdinar. Dengan langsung makan besar, pencernaan yang belum siap untuk memproses langsung dipaksa bekerja keras. Kerja tubuh, yang tentunya melibatkan peredaran darah, akhirnya berpusat di perut, sehingga darah yang mengalir ke kepala menjadi sedikit. Sholat tarawihpun ditinggalkan.

     Makanan yang memiliki keasaman sebaiknya juga dihindari saat berbuka, seperti asinan. Setelah berpuasa biasanya asam lambung akan meningkat. Bila kemudian langsung makan yang asam, maka keasaman di lambung akan bertambah dan berlebihan. Lambungpun menjadi sakit.

     Perlu diusahakan pula, pada saat puasa agar semua zat gizi yang diperlukan tubuh dipenuhi saat sahur dan berbuka. Namun pemenuhannya dibagi merata pada dua waktu makan tersebut. "Jangan penuhnya hanya di sore hari saat berbuka saja," tambah Kusdinar.

Jangan berhenti bergerak

     Saat menjalankan ibadah puasa, rasa lelah dan kantuk biasa kita rasakan, terutama saat siang sampai sore hari. Ini disebabkan menurunnya kadar gula darah dalam tubuh. Dengan bergerak, tubuh dapat memobilisasi lemak untuk dikatabolisir menjadi gula darah dalam tubuh. Kadar gula akan kembali meningkat dan rasa lelah serta kantuk akan hilang.

     Oleh karena itulah berpuasa tidak berarti kita mengurangi aktivitas kita, termasuk berolahraga. Tapi tentu saja harus dipilih waktu dan jenis olahraga yang tepat. Dr. Carmen menganjurkan olahraga selama 30 menit sebelum atau sesudah berbuka. Olahraga yang dilakukan sebelum berbuka biasanya yang gerakannya agak ringan, semisal senam.

     "Karena senam kan tidak terlalu banyak membutuhkan kalori, juga tidak terlalu banyak mengeluarkan keringat. Waktu itu memang sudah tak banyak lagi kalori dan cairan yang tersimpan dalam tubuh," jelas Carmen.

     Bisa juga dilakukan sesudah berbuka. Minum dulu kemudian makan kurma dan sedikit karbohidrat, baru sholat dan melakukan olahraga. Jalan kaki ke tempat tarawih yang agak jauh juga merupakan olahraga ringan yang mungkin dilakukan.

Kesehatan psikis

     Puasa, khususnya di bulan Ramadhan, tak hanya membawa pengaruh positif bagi kesehatan fisik. Bahkan pada hakekatnya bulan suci ini adalah bulan penuh tempaan dalam rangka meningkatkan kesehatan psikis. Besarnya pahala yang dijanjikan Allah untuk semua ibadah yang dilakukan di bulan ini, tentunya mendorong kita berlomba-lomba memperbanyak amalan. Amalan yang dilakukan secara benar dan penuh keikhlasan akan membawa dampak positif bagi kondisi psikis atau mental kita.

     Latihan kesabaran sekaligus pengendalian diri, antara lain, didapat dari menahan haus dan lapar serta usaha kita meredam segala amarah yang muncul. Latihan kedisiplinan. antara lain, didapat dari keteraturan pola makan dan waktu-waktu menunaikan ibadah harian seperti sholat wajib dan sholat sunnah. Latihan empati terhadap penderitaan kaum tak berpunya didapat dari pengalaman langsung merasakan betapa sengsaranya perut yang lapar.

     Semua latihan ini akan memberi penyegaran pada psikis yang mungkin telah lelah selama 11 bulan mengehar ambisi duniawi. Namun dampak kesehatan psikis tersebut hanya didapat bilamana puasa dilakukan dengan kesadaran penuh dan keikhlasan mendalam.

    Sungguh Allah, sebagai al Khalik, memang begitu mengenal makhlukNya. Semua aturannya adalah demi kebaikan ciptaanNya. Puasa, sebagai satu hikmah, untuk kesehatan fisik sekaligus kesehatan psikis. 

Sumber: Majalah Ummi  No.6/XIV/2002 - Asmawati / Laporan Rosita, Maria, Wirda dan berbagai sumber.
Puasa: Pahala Dapat, Tubuh Sehat Puasa: Pahala Dapat, Tubuh Sehat Reviewed by Andi on 20 Agustus Rating: 5