Berhemat Yuk!

Man, kita semua juga tau kalo bangsa kita ini sepertinya nggak pernah putus dirundung malang. Gimana nggak, dari hari ke hari, kondisi rakyat tuh makin susah dan sengsara aja. Pasti selalu ada aja yang bikin rakyat menjerit. Mulai dari bencana alam, salah teknis alat transportasi umum, sampe langkanya bahan makanan atau naiknya BBM yang bikin rakyat sekarat. Aduh!

Makanya, pernah nggak kita mikir, atau paling nggak sekelebatan aja, bahwa di satu sisi, dengan cara kita sendiri, sesungguhnya kita bisa bikin kondisi yang ada sekarang ini menjadi lebih baik? Artinya, kita ikut berpartisipasi. Apaan dong? Ada, berhemat! Paling nggak hemat energi di sekeliling kita.

Tau nggak, konsumsi masyarakat Indonesia tercinta tuh cenderung boros dalam pemakaian energi. Yakni mencapai hampir dua kali lipat dari yang dibutuhin selama ini. Mubazir! Hemat energi adalah suatu tema, yang menarik perhatian penuh di seluruh masyarakat umum, tapi dalam hubungan ini jarang dipikirin ke masalah penerangan. Ternyata di nagri sebagai catatan, 10% dari seluruh kebutuhan energi 480.000 GWH (1 GWH = 1 x 166 KWH) dipakai buat tujuan penerangan, yang dibagi lagi dalam 20% untuk rumah pribadi (private house hold) dan 80% untuk industri, perdagangan, penerangan umum dan sebagainya.

Kita tentu mafhum, dengan jumlah ppenduduk lebih dari 210 juta orang, kebutuhan pemakaian energi listrik tentu aja makin ningkat. Sementara ketersediaan sumber energi listrik di mana-mana juga sangat terbatas banget. Malangnya, di negara kita, kenaikan itu nggak menggambarkan kenaikan produktivitas dalam penggunaan energi. Maksudnya apa? Kalo di nagri, listrik atau energi dipake tuh hasilnya ada gitu lho. Jelas dan produksi semua sektor. Nah, ini yang nggak terjadi di Indonesia.

Udah jelas, setiap kenaikan yang tinggi pastinya menyebabkan lebih banyak minyak yang dibakar, baik untuk keperluan pengadaan listrik, kendaraan bermotor dan lain-lain. Jadi, berdampak terhadap perekonomian bangsa kita, karena mengakibatkan impor BBM makin tinggi. Kenapa bisa begitu yak? Bisa. Karena seperti yang udah disebutin di atas, peningkatan pemakaian energi itu, justru lebih banyak dipakai untuk kepentingan konsumtif. Padahal, lanjutannya, sumber energi kita saat ini sudah sangat terbatas. Jadi jangan kaget aja, nggak hanya bangsa kita makin miskin, tapi juga anak cucu bangsa Indonesia ini teerancam nggak kebagian energi.

Pada siang hari misalnya, energi listrik yang tersedia nggak digunakan secara optimal. Akibatnya, lagi-lagi kita sebagai bangsa kehilangan competitive-ness. Kalo mau mencontohkan yang lain misalnya, negara Jepang. Di sana, setiap penambahan kapasitas 100 MW, digunakan 80% dari waktunya. Sedangkan di Indonesia, setiap 100 MW hanya diguain 30-40% dari waktunya. Wah, kalo dirata-ratain, sistem Jawa-Bali, misalnya, faktor daya atau efisiensinya hanya 50-60% persen dari Jepang. Sekali lagi, artinya banyak energi listrik yang nggak terpakai. Sebaliknya, pada malam hari, pemakaian listrik, terutama pada jam-jam puncak (khususnya 17.00 sampai 22.00), berlebih. Namun, sayangnya energi listrik itu nggak digunakan untuk pabrik, melainkan lebih untuk kemewahan dan gaya hidup, seperti rumah, night club, dan billboard. Halah! -_-'

Jadi, ngeliat dari kondisi yang seperti itu, nggak ada salahnya kita berhemat energi, bung! Emang sih, kita "beli" listrik ama negara, tapi nggak ada salahnya kita juga ikutan berhemat. Penghematan tersebut toh nggak hanya bermanfaat bagi masyarakat yakni hemat bayar listrik tiap bulan, tapi juga bakalan punya dampak positif bagi yang punya listrik di negara ini. Maksudnya, kita nggak harus terus-terusan membakar minyak, yang sesungguhnya ngeberatin semua pihak. Kok ada hubungannya ama minyak?

PLTU Indramayu, Jawa Barat

Asal tahu saja nih, saat ini jumlah pembangkit listrik di seluruh Indonesia mecapai 4360 unit. Dan khusus untuk luar Sumatera dan luar Jawa, distribusi listrik dipasok ama pembangkit listrik tenaga diesel yang ngegunain minyak. Kita sebut harga minyak per liter kWh Rp. 2.200. Jika dikalikan dengan 0,3 liter per kWh, berarti biaya produksinya mencapai sekitar Rp. 660. Belum ditambah biaya transportasi! Makin jauh wilayah distribusinya, maka total biayanya makin tinggi.

Misalnya aja di Indonesia Timur, biaya pembangkit bisa mencapai Rp. 1.800 per kWh. Sedangkan di pulau Jawa, pembangkit listrik terdiri dari beberapa jenis, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pembagkit listrik berbahan bakar batu bara, minyak, gas alam, panas bumi, hidro dan lainnya. Jika di Jawa menggunakan pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar minyak, maka harganya antara Rp. 650 hingga Rp. 1.000 per kWh. Sedangkan jika ngegunain bahan bakar gas, harganya Rp. 231 hingga Rp. 300 per kWh, dan batu bara harganya Rp. 137 per kWh. Jadi dari sini sudah dapat kita simpulkan, betapa lebih murah menggunakan bahan bakar lain dibandingkan menggunakan bahan bakar minyak.

Kita sih mungkin udah berhemat energi. Tapi gimana dengan di luaran sana? Dunia gemerlap, mulai dari night-club, konser musik, atau pertandingan olahraga dsb. juga kan memakai listri yang besar-besaran? Nah lho! Emang kalau mikir ke arah sana, berasa sia-sia aja apa yang kita lakukan. Tapi sesungguhnya nggak begitu tuh!

Kalo aja kita udah ngejadiin sikap berhemat ini sebagai gaya hidup kita, sebagai prinsip, itu lah yang paling terpenting. Manfaat yang didapatkan dari pengematan energi listrik akan dirasakan generasi kita dan masa depan entar. Untuk itulah, nggak ada salahnya kita menghemat penggunaan listrik, minimal pada pukul 17.00 hingga 22.99. Seperti yang dianjurkan ama PLN tuh he he he... Dampak penghematan energi listrik, untuk setiap penurunan beban 1 MW selama waktu beban puncak (WBP), bakalan menghemat sebanyak 36 kiloliter BBM atau senilai Rp. 79 juta per bulan. Luar biasa kan nggak nyangka?

Ingin tahu cara berhemat? Baca artikel ini:

Saksi, Kahfi N20 TII 090306
Berhemat Yuk! Berhemat Yuk! Reviewed by Andi on 14 Oktober Rating: 5