Berteman? Mengapa Tidak?

Memang sudah dari sananya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Hm maksudnya makhluk yang suka minta sumbangan, gitu? Bukan lah! Makhluk sosial itu artinya, kurang lebih makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Bisa dibayangkan apa jadinya bila kita harus hidup sebatang kara? Kalau tidak bisa, tidak akan ada yang menyalahkan kamu. Emang susah, sih!

Salah satu bukti bahwa kita membutuhkan seseorang adalah fenomena 'teman'. Bisa dikatakan: di dunia ini, ga ada orang yang gak punya teman; entah satu, dua, atau bahkan... ratusan! (Bukan iklan wafer Tanggo lho! -_-). Berteman sama seperti bernafas, makan, bahkan tidur. Bicara kebutuhan internal; desakan untuk berbagi senang dan susah, memperluas pergaulan, atau berada di lingkungan yang lebih mengerti gejolak emosi adalah hal yang perlu diakomodir segera, kan?

Tahukah kamu tentang Peer Group?
Adalah fakta bahwa dalam urusan pertemanan, ada format yang sering dipilih dan jadi tren. Nge-genk! Beraktifitas bersama-sama atas nama hobi, kecenderungan, pemikiran; dan demikianlah tabiat manusia (selalu mencari teman yang memiliki sekian persamaan sifat dan karakter dengan dirinya). Karena itu, di antara anggota kelompok-kelompok ini, biasanya terjalin ikatan yang dinamakan peer group. Menurut Cartwright, Santrock, dan Zander (pakar-pakar psikologi remaja), peer group adalah sekumpulan remaja sebaya yang punya hubungan erat dan saling tergantung.

Sesungguhnya, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pola persahabatan peer group. Sebut saja: memperluas wawasan dari luar keluarga, mendapatkan tempat curhat, kesempatan mandiri tanpa diawasi ortu atau orang dewasa lain, bahkan menemukan jati diri! Dra. Winarini Wilman Dahlan, PhD mengatakan, "Salah satu alasan remaja butuh peer lebih besar daripada yang lain adalah untuk mencapai identitas."

Kok bisa? Katakanlah identitas itu adalah image untuk suatu produk. Image yang melekat pada genk yang kita masuki, nantinya bakal sangat memengaruhi kita, baik bicara tentang kepercayaan diri, status dan tentu saja reputasi atau prestise tertentu yang diraih!

Contoh? Katakanlah kita bergabung ke sebuah genk yang terkenal punya. Maka, secara otomatis, reputasi kita akan naik dan ikut-ikutan terkenal. "Ketika berada di kelompok, kita ingin punya reputasi tertentu. Kalau punya reputasi, kita dapat hak tertentu. Ada pengakuan dari orang lain," sambung Dra. Winarini. "Ditambah lagi, masa remaja merupakan masa mencari identitas. Mau enggak mau, 'kelompok' ikut campur tangan pada cara kita menilai diri sendiri. Dari berbagai pengalaman bareng genk-lah kiat berusaha menjawab pertanyaan 'Siapa aku?' dan lain sebagainya. Semua itu akan terjawab ketika kita merasa nyaman bersama suatu geng tertentu."

Efek Membahayakan yang Tersembunyi
Meski banyak faedahnya, ada problem besar yang bersembunyi di balik pertemanan ala peer group. Hal itu bernama: tekanan. Yap, tekanan. Dalam peer group, ada tekanan yang 'memaksa' setiap anggota untuk melakukan apa yang biasa kelompok itu lakukan.

Dra. Winarini, pengajar psikologi remaja di UI melanjutkan, "Karena sangat butuh reputasi dan pengakuan kelompok, kita cenderung mengikuti tekanan kelompok." Tekanan ini memang kembali lagi pada identitas apa yang dimunculkan oleh kelompok. Dalam konteks ini, bersyukur bila kita gabung ke genk yang positif. Kalau engga?

Umumnya, karakter manusia dipengaruhi di lingkungan mana dia tumbuh. Dalam hal ini, harus diakui: teman (dalam format apapun) adalah fakot terbesar yang mampu 'mewarnai' diri kita. Rasul bersabda, "Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya." [HR. Ahmad dan Tirmidzi]

Prinsip Dasar
Hadapilah: tidak semua orang bisa kita jadikan teman. Ada orang-orang yang perlu kita jauhi karena keburukan amalnya. Prinsipnya: Cobalah persahabat dengan orang yang membangkitkan hal-hal positif dalam dirimu. Jika kamu dekat mereka, kamu yang tadinya murung berubah ceria, gak gampang putus asa, dapat banyak masukkan berharga, jadi lebih rajin ibadahnya, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan mereka yang kelakuannya kurang bagus? Bergaul sih boleh, asal bukan kamu yang dipengaruhi, tapi kamu yang memengaruhi mereka dengan kebaikan. Selama syarat ini kamu bisa pegang, maka pergaulan kamu justru punya nilai plus di mata Ilahi!

Lookers 10 Th. I / September 2006
Berteman? Mengapa Tidak? Berteman? Mengapa Tidak? Reviewed by Andi on 16 Mei Rating: 5