Mencari Jati Diri


Pernah nonton film "Who Am I?"
Kalau diperhatikan, film yang dibintangi Jackie Chan ini sering sekali diputar di televisi. Betul? Nah, ceritanya (kurang lebih) tentang seorang tentara unit khusus yang punya misi khusus tapi mengalami kejadian khusus; nyusruk dari helikopter, nyangsang di pohon, dan... anemia! Eh, maksudnya kurang darah? Oh, sori-sori. Amnesia, deng! (abis mirip, sih, hehe). Sepanjang film diceritakan usaha Jackie Chan mencari tahu identitasnya sekaligus membongkar kejahatan salah satu sindikat senjata berbahaya. Lho lho, kok jadi resensi film?

Mungkin apa yang menimpa kita tidak separah Jackie Chan. Tapi ssstt..., jangan salah! Kita juga ga "sehat-sehat" amat; terlebih bagi kita yang sengaja "melupakan" proses pencarian jati diri. Akibatnya? Ngelantur menjalani hidup! Nggak heran, deh, banyak kawula muda kini yang nggak jelas identitasnya, gamang, kabur, burem! Sekilas, sih, gak apa-apa. Tapi apa iya begitu? Dan, apa yang harus kita lakukan biar ga jadi tersangka kasus kehilangan identitas ini?

Hidup adalah anugerah. Ya, kan?
Ayolah, jangan bilang "tidak" karena hidup kamu, kita, dan seluruh peradaban manusia, asasinya adalah hadiah spesial dari Allah Swt. Memang! Nafas, detak jantung, kenangan-kenangan, teman, keluarga, pengetahuan, cinta dan sebagainya. Apa yang kita alami, rasakan, kecap, analisa, semuanya adalah kesempatan yang belum tentu makhluk lain rasakan. Tanyakan itu pada cacing tanah yang merangkak pelan menjauhi garam dapur, kambing yang mengembik takwa menjelang Idul Adha, atau pada rumput yang bergoyang...

Yap, untuk manusia, apa sih yang nggak spesial? Allah udah beri banyak banget buat kita. Alam semesta, bumi dan isinya, pasangan dari jenis kita sendiri, rizki yang dijamin, kesempurnaan penciptaan, dan lain-lain. Sebenarnya masih ada lagi. Tapi, yakin kamu mau baca!?

Lagipula, tidak ada alasan untuk berpikir negatif. Yuk hargai hidup dari sekarang; dan kamu akan menemukan ruang baru "tercipta" di kepala kamu. Masuki, hirup udaranya dalam-dalam, pelajari isinya. Sangatlah berharga! Itulah ruangan yang dinamakan "kesadaran". Seperti perpustakaan dengan beragam koleksi buku, ruangan itu menyimpan rak-rak besar untuk literatur-literatur kaya hikmah. Nah, tugas pertama kita adalah mencari tahu keberadaan buku "jati diri". Ini tugas yang penting; sehingga tugas kedua tidak akan pernah kita jalankan dengan benar sebelum tugas pertama keluar dengan benar.

Hanya mereka yang benar-benar menghargai hiduplah yang mengerti bahwa hidup itu berarti dan pantas diperjuangkan. Karenanya, mereka tidak mau sembarangan! Sebelum berlayar arungi samudera kehidupan, mereka menjadi pelaut yang cerdas dengan memeriksa dahulu jenis dan kondisi kapal yang digunakan, muatan yang dibawa, keahlian yang harus dia miliki, dan tentu saja: tujuan. Ya dong! Masa berlayar tapi nggak tahu mau berlayar ke mana?

Menjadi remaja di satu sudut pandang, emang susah-susah gampang. Fase yang sering dikenali sebagai fase pasca anak-anak ini membuat korban-korbannya "bingung" dengan sekian banyak hal yang harus dipahami, dipelajari, jalankan.

Misalnya... jati diri. Kompleks, berjalin kelindan dengan rumitnya hidup itu sendiri. Dipikirin? Nyusahin, pikir mereka. Sering, sebagian remaja menjadi terlalu instan dan tidak pernah mengkhususkan waktu untuk merenungi jati dirinya. Padahal, ngomongin jati diri sama halnya dengan ngomongin masa depan. Ketika jati diri tidak terkonsep dengan benar, apa masa depan akan terkonsep dengan benar? Apa mereka yang tidak pernah bertanya, "Siapa sih sebenarnya aku?" pada diri sendiri, akan menemukan siapa dirinya, sebenar-benarnya?

Teori psikososial Erikson menuturkan, "Perkembangan jati diri manusia berjalan melalui 8 tahapan yang mencakup:

  • Kepercayaan vs. Ketidakpercayaan (0-1 Tahun)
  • Otonomi vs. Keraguan (2-3 Tahun)
  • Inisiatif vs. Rasa Bersalah (4-5 Tahun)
  • Kerajinan vs. Rasa Rendah Diri (6-11 Tahun)
  • Identitas vs. Kebingungan Peran (Masa Remaja)
  • Keintiman vs. Isolasi (Masa Dewasa Awal)
  • Generativitas vs. Stagnasi (Nasa Dewasa Madya)
  • Integritas vs. Keputusasaan (Lanjut Usia)
Istilah versus menunjukan bahwa setiap perkembangan selalu disertai krisis yang harus dihadapi. Saat menjalankan tahap tertentu, setiap orang akan mengalami konflik yang, jika tidak diselesaikan, akan menghambat perkembangannya. Bentuk eksterm kegagalan dalam membentuk jati diri adalah munculnya jati diri negatif, yaitu gambaran diri yang bertolak belakang dengan nilai-nilai agama. Dengan menerima jati diri negatif, seseorang berani melakukan apa yang dilarang agama.

Nah bisa dilihat, kan? Usia remaja adalah fase di mana identitas harus dimenangkan. Jika tidak, kebinungan peran akan menjamah, mengontrol, dan menghancurkan kita...!

Jangan mau jadi remaja o-on!
Yee, siapa juga yang mau? Hmm, jangan salah. Ada juga, kok! Bedanya mereka nggak sadar kalau julukan itu sudah nangkring di kepala mereka. Bak mahkota kerajaan yang bersinar menggelikan. Ibu Clara Istiwadarum Kriswanto, alumni Fakultas Psikologi Indonesia menuturkan, "Mereka yang fool (o-on) adalah remaja yang mengikuti semua tren terbaru dan punya banyak teman, tanpa mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan."

Merasa?
Kenyataannya banyak remaja yang begitu. Ini disebabkan remaja tersebut belum menemukan identitasnya. Dia masih labil. Masih butuh banyak masukan. Ketika ini tidak juga dilakukan, maka mereka akan semakin terjerumus dalam ketidakpastian. Efek samping? Bisa ditebak. Rokok, narkoba, pergaulan bebas, dan item-item horror lainnya. Kuntilanak garapan Rizal Mantovani juga nggak ada apa-apanya!

Sobat..., sadar dong, kalau kamu udah gede. Kalau kamu harus segera menemukan identitas kamu. Jika nggak, pertumbuhan mental kamu akan terganggu. Kamu tahu betul kalau itu sungguh kejadiannya, pasti nggak menyenangkan. Itulah kamu harus mengulik lagi diri kamu untuk beberapa pertanyaan di bawah ini. Moga manfaat, ya?

Siapa aku?
Pertanyaan ini mencakup mengenai jati diri kamu. Pelajar? Anggota keluarga? Teman? Muslim! Ya, kita selayaknya paham tengah "menganut agama apa" karena agama adalah petunjuk dari Tuhan demi keterarahan hidup; bahkan dalam Islam, hal ini mutlak abis. Sebagai muslim, siapa sih Tuhan kita? Siapa sih Rasul kita? Adakah tugas yang terkait dengan identitas ini? Dll.

Apa tujuan hidupku?
Bagi remaja muslim, Islam udah mempermudahnya. Allah mengatakan dalam Adz-Dzariat ayat 56 bahwa tujuan penciptaan kita adalah beribadah pada Allah. Ibadah itu nggak semput sebatas shaat, puasa, zakat, dan sejenisnya, loh. Mengerahkan kemampuan kamu untuk membantu tersebarnya Islam juga sebuah kebaikan. Misalnya, buat kamu yang ahlui bahasa pemrograman. Kamun mungkin nggak cape ceramah di atas podium, tapi kamu bisa "berjuang" lewat keahlian kamu dengan membuat situs Islam. Sipp!

Apa prinsip hidupku?
Semakin kita setia pada prinsip hidup, semakin kita dikatakan sebagai orang yang mempunyai integritas. Sebagai muslim, prinsip hidup kita idealnya tidak jauh dari Al Qur'an dan Sunah. Kita dituntun pula untuk bersungguh-sungguh dalam hidup ini. Selain itu, kita juga kudu punya komitmen yang jelas; sebab satu hal yang membedakan kita dengan anak-anak adalah keberanian mengambil komitmen dan menjatuhkan pilihan.

Apa cita-citaku?
Cita-cita bisa berdasarkan hobi, minat, aktivias. Jalain apa yang kamu suka (tapi, harus tetap pada jalur, lho!). Nah, kalau kamu menggeluti sesuatu yang kamu cintai, kamu akan tekun di situ. Gigih di situ. Berhasil di situ! Insya Allah...!


Look N13/Th I/ Nov '06

Mencari Jati Diri Mencari Jati Diri Reviewed by Andi on 5/18/2012 Rating: 5

Tidak ada komentar